Ada Potensi \’Harta Karun\’ di Lumpur Lapindo

Ditemukan potensi ‘Harta karun’ di lumpur Sidoarjo atau yang lebih dikenal bersama lumpur Lapindo.
Pengamat Hukum Kekuatan dan Pertambangan Ahmad Redi menjelaskan kalau memang lithium tersebut tersedia di dalam jumlah besar maka sanggup dijadikan bahan standar baterai.

“Tersebut dapat punyai nilai ekonomi tinggi,” kata dia kala dihubungi detikcom, Selasa (25/1/2022).

Redi mengatakan, memang dibutuhkan sebagian langkah untuk memanfaatkan potensi ‘Harta karun’ ini misalnya bersama dengan membangun pabrik dan industri pengolahan.

Kelanjutannya kalau memang untuk kepentingan ekspor maka dibutuhkan pembangunan smelter di didalam negeri.

Menurut Redi di dalam Undang-Undang Minerba mengenai pengolahan tambang tinggal dilihat perizinan corporate mana yang akan mengusahakan.

Sebelumnya di informasikan Berasal dari hasil team terpadu riset berdikari (Ttrm) ditemukan takaran lithium terhadap lumpur yang dikenal bersama dengan julukan lumpur Lapindo itu.

Ahli Geologi ITS Amien Widodo mengatakan, penelitian tersebut telah dilaksanakan semenjak lama. Terhadap th lalu, pihaknya juga udah mengundang Badan Geologi Kementerian ESDM untuk memaparkan hasil penelitiannya.

Semburan lumpur di Sidoarjo menyimpan potensi ‘Harta karun’ yang disebut-sebut langka. Hal tersebut terungkap didalam riset yang dilaksanakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Its) Surabaya.
Berasal dari hasil team terpadu riset berdikari (Ttrm) ditemukan kadar lithium terhadap lumpur yang dikenal bersama julukan lumpur Lapindo itu.

Ahli Geologi ITS Amien Widodo mengatakan, penelitian tersebut udah ditunaikan semenjak lama. Terhadap tahunan lalu, pihaknya juga udah mengundang Badan Geologi Kementerian ESDM untuk memaparkan hasil penelitiannya.

“Sebenarnya ini udah, kami telah mempresentasikan ini berulang-kembali malah. Menjadi Badan Geologi, kami udah undang ke ITS April 2021. Mereka udah memaparkan hasilnya dan kami memaparkan hasil kami,” kata Amien kepada detikcom di Surabaya, Senin (24/1/2022) lalu.

“Kecuali ITS kan istilahnya hanyalah penelitian awal saja. Kami semata-mata eksperimen lebih dari satu titik saja sambil untuk memirsa hasilnya. Nah tersebut belum sanggup kami, hingga menjadi belum, kami cuman saksikan takaran lithium berasal dari lumpur,” tambahnya.

Amien menyebut penelitian yang dikerjakan Badan Geologi dan ITS berbeda. Kalau Badan Geologi menemukan rare earth atau logam tanah sporadis (Ltj), pihaknya lebih ke lithium.

“Badan Geologi meneliti istilahnya logam tanah sporadis tadi, logam langka. Kami menganalisis yang satunya. Kami sekedar menganalisis lithium lah istilahnya,” tambah Amien.

Meski demikian, dia mengatakan, penelitian persentase lumpur di Sidoarjo masih termin awal. Dia mengatakan, belum dikerjakan penelitian lanjutan soal kadar lithium.

Sumber